Kurban dan Integritas Kebangsaan
Pada Hari ini sebagian Umat Islam menjalankan sholat iedul
adha sebagai pertanda bahwa hari iedul qurban telah terbuka untuk 3 hari ke
depan. Iedul qurban sebagai rutinitas ajaran Islam yang terus ada dalam setiap
tahun akan berlangsung selama kehidupan ini ada. Disinilah ajaran Islam dapat
difungsikan berlaku sepanjang zaman, rahmat semesta alam.
Disi qurban, orang yang berkurban adalah orang yang berusaha
mendekatkan diri kepada Allah SWT, pendekatan diri kepada Allah melalui kurban
lantaran manusia melakukan kesalahan, dan penghambaan yang salah terhadap
keimanan. Ujian keimanan dalam kurban merupakan faktor utama adanya kewajiban ini. Keimanan manusia akan
diuji terus menerus, selagi manusia dalam dirinya tertanam “mu’min”.
Demikian pula ujian kepada bangsa dan Negara Indonesia yang
silih berganti, pemerintah berganti ujian baru muncul baik yang berasal dari manusia
maupun dari alam semesta. Manusia dan alam semesta saling berkelindan utuh,
yang terus menerus saling ingat-mengingatkan. fenomena-feneoma kekeringan,
kebakaran, banjir bandang, dan gunung meletus, ini menjadi pertanda untuk
mengingatkan kepada manusia untuk selalu harmonis kepada Alam. Manusia diuji
dengan keberadaan ekonomi yang turun, harga kebutuhan naik, daya beli
masyarakat semakin turun, orang miskin menjadi banyak jumlahnya dan ujian
lainya.
Banyak ujian yang diberikan kepada bangsa ini, menjadikan
diri kita sadar bahwa, bangsa yang besar akan menghadapi ujian besar pula. Cita-cita
bangsa menjadikan Negara ini adil makmur, sejahtera, dan cerdas masih bersifat
tekstual, jikalau sudah dilakukan paling tidak hanya dilihat pembangunan fisik
dan kesejahteraan yang belum merata. Jika demikian, keniscayaan kepada orang
miskin untuk keadilan, kesejahteraan, kecerdasan justru akan semakin bertambah.
Kekhawatiran jumlah orang miskin akan bertambah, akan berdampak pada
kriminalitas, amoral, dan perbuatan yang menyimpang lainya akan tumbuh dan
berkembang.
Kesadaran keimanan manusia untuk menjalankan kurban,
sebenarnya tidak hanya menyerahkan sejumlah uang atau hewan kurban, akan tetapi
kurban dimaknai sebagai bentuk upaya bersama dalam mencapai derajat kesadaran
manusia untuk berbagi kepada manusia, dan alam. Demikian pula kurban, dapat
dipahami memberikan sesuatu kepada
manusia yang ditujukan kepada Allah untuk mendapat keridho’an Allah SWT.
Gerakan kurban, terasa berat ketika dihubungkan dengan
kondisi ekonomi sekarang ini, manusia dengan sejumlah dalih yang dikeluarkan
menyatakan “tidak mampu”, bila ditelisik lebih jauh meraka “mampu” dan pada
dasarnya “tidak mau”. Sifat inilah yang sering muncul dan dimunculkan oleh
hati, perasaan, pikiran manusia yang dibakar oleh hawa nafsu, godaan syetan,
dan keadaaan manusia sendiri. Budaya bahwa manusia “tidak mampu” dan keluh
kesah merupakan sifat kodrati yang harus dibuang dengan mengalirkan darah
kurban.
Demikian sifat-sifat yang muncul dari pemerintah ( tidak
semua oknum), menjadikan Negara ini menjadi “hewan kurban” yang harus
disembelih dan diberikan kepada lain sangatlah tidak tepat, yang benar adalah
sifat-sifat manusia itulah yang harus dikurbankan untuk menerima keadaan yang
suci.
Kesucian bangsa dan Negara ini layak untuk diperjuangkan,
Korupsi, Penyalahgunaan Narkotika, Nepostisme, dan lainya menjadi bangsa ini
semakin terpuruk. Integritas keimanan bangsa ini semakin lama akan semakin
pudar dan hilang dalam benak setiap insan warga. Titik kurban sebagai bentuk
kehilangan integritas keimanan kepada kebutuhan yang bersifat materialis harus
dikurbankan untuk menjadi yang lebih baik, yakni kebutuhan pada sifat
keillahian, dan keruhanian semesta. Pengorbanan inilah yang harus dilakukan
oleh warga dalam bangsa ini untuk menjadikan bangsa ini keluar dari “krisis
kebangsaan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar