KONTROL DIRI,
PRASANGKA BAIK, DAN PERSAUDARAAN
A.
Kajian Kontrol
Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan
1.
Kontrol
diri ( Q.s Al-anfal:72 )
إِنَّ
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ
فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَواْ وَّنَصَرُوٓاْ أُوْلَٰٓئِكَ بَعۡضُهُمۡ
أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يُهَاجِرُواْ مَا لَكُم مِّن
وَلَٰيَتِهِم مِّن شَيۡءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُواْۚ وَإِنِ ٱسۡتَنصَرُوكُمۡ فِي
ٱلدِّينِ فَعَلَيۡكُمُ ٱلنَّصۡرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوۡمِۢ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُم
مِّيثَٰقٞۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ
72. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan
orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang
muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap)
orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban
sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi)
jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka
kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada
perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan.
Kontrol diri atau mujahadah al-nafs adalah perjuangan
sungguh-sungguh atau jihad melawan ego atau nafsu pribadi. Perjuangan ini
dilakukan karena nafsu-diri memiliki kecenderungan untuk mencari pelbagai
kesenangan, masa bodoh terhadap hak-hak yang harus ditunaikan, serta
mengabaikan terhadap kewajiban-kewajiban. Siapa pun yang gemar menuruti apa
saja yang diinginkan oleh hawa nafsunya, maka sesungguhnya ia telah tertawan
dan diperbudak oleh nafsunya itu. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan
mengapa Nabi Saw menegaskan bahwa jihad melawan nafsu lebih dahsyat daripada
jihad melawan musuh (qital).
Kontrol diri adalah kemampuan
seseorang untuk mengendalikan dirinya sendiri secara sadar
agar menghasilkan perilaku
yang tidak merugikan orang lain, sehingga sesuai dengan norma sosial dan
dapat diterima oleh lingkungannya. Kontrol diri juga didefinisikan sebagai kapasitas
manusia untuk mengendalikan respon terutama dalam fungsinya untuk beradaptasi
dengan norma ideal, moral, ekspektasi sosial, dan pencapaian jangka panjang. Kontrol
diri berkairan erat dengan internal locus of control dan efikasi diri.
Mujahadah
an Nafs
hanya dapat dilakukan karena hidayah Allah Mujahadah al-nafs merupakan
perbuatan yang berat. Meskipun berat Allah menjanjikan jalan keluar bagi orang
beriman yang bersungguh-sungguh berjuang mengendalikan nafsunya. Sebagaimana
firman Allah: “Orang-orang yang berjihad
di jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami…” (QS
al-Ankabut: 69). Imam Ibn al-Qayyim berkata: “Allah menggantungkan hidayah
dengan laku jihad. Maka orang yang paling sempurna hidayah (yang diperoleh)-nya
adalah dia yang paling besar laku jihadnya. Jihad yang paling fardu adalah
jihad melawan nafsu, melawan syahwat, melawan syetan, melawan rayuan duniawi.
Siapa yang bersungguh-sungguh dalam jihad melawan keempat hal tersebut, Allah
akan menunjukkan padanya jalan ridha-Nya, yang akan mengantarkannya ke pintu
surga-Nya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan jihad, maka ia akan sepi dari
hidayah…”
Di ayat lain,
Allah menjelaskan bahwa membebaskan nafsu merupakan karunia Allah, sebagaimana
firmannya: “Dan aku tidak membebaskan nafs-ku, karena sesungguhnya nafs itu
selalu sangat menyuruh kepada keburukan, kecuali nafs yang dirahmati Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf/12: 53).
Kalimat yang bergaris bawah menunjukkan bahwa kita tidak akan sanggup
mengendalikan diri, kecuali mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah.
Akibat mengikuti
nafsu para pelaku tindak kriminal di sekitar kita, seperti para koruptor,
pemakai narkoba, pembunuh, misalnya, adalah orang-orang yang gagal dalam laku
mujahadah diri. Sebaliknya, mereka justru menuruti segala keinginan dan syahwat
diri, sehingga mereka tertawan dan diperbudak olehnya. Mereka tidak pernah
menyadari tentang buah kejahatan yang akan datang menjelang, cepat atau lambat.
Yang mereka pikirkan adalah bayangan semu tentang kenikmatan sesaat dan instan.
Na’udzu billah, semoga kita dihindarkan cara pandang sedemikian.
Cara Mujahadah annafs,
Ada empat cara melakukan mujahadah an-nafs dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:
1)
Bersabar atau
menyisihkan waktu
yang lebih lama untuk mengambil keputusan dari perbuatan yang akan dilakukan. Sikap
sabar akan membuka pikiran jernih yang menjadi pembuka ide-ide brilian yang
mengambil keputusan.
2)
Memikirkan akibat
dari perbuatan yang kita lakukan. Berpikir tentang akibat perbuatan yang
akan dilakukan dapat meminimalisasi hal-hal negatif dan penyesalan yang akan
ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Bukankah setiap perbuatan sebenarnya akan
kembali kepada pelakunya sendiri? Allah Swt berfirman: “Jika kamu berbuat baik,
maka kamu berbuat baik kepada dirimu sendiri. Jika kamu berlaku jahat, maka
kamu berbuat jahat pada dirimu sendiri.” (QS Al-Isra: 7).
3)
Berdzikir kepada
Allah,
Berdzikir merupakan cara untuk menyadarkan diri bahwa segala perbuatan kita
dilihat dan dicatat oleh Allah untuk dipertanggungjawabkan di akhirat.
4)
Berdoa kepada
Allah,
doa menjadi modal spritual ketika dalam kesulitan. Inilah yang dicontohkan
Rasulullah, ketika beliau dilempari batu dan diusir dari Thaif, justru beliau
mendoakan penduduk thaif agar diberi hidayah oleh Allah.
2.
Prasangka Baik
Sebagaimana Q.S Al-hujarat:12
telah menjelaskan ;
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ
إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ
أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ
وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ
12.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka
(kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah
mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah
seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka
tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayan.
Prasangka /dzon, menurut KBBI adalah pendapat/anggapan yang kurang baik
mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan-menyelidiki), sendiri. Rasa
pendapat atau perasaan yang buruk terhadap ras tertentu tanpa pengetahuan atau
alasan tertentu. Prasangka juga dapat diartikan sebagai sikap yang tidak masuk
akal yang tidak dipengaruhi oleh alasan
rasional/ pengetahuan.
Prasangka dalam Islam
secara garis besar bisa dibedakan menjadi dua bagian penting yakni prasangka
baik (huznudzon) dan prasangka buruk
(suudzon). Namun di masyarakat pada
umumnya kebanyakan justru prasangka buruklah yang popular. Mengapa demikian?
Memang perilaku berprasangka buruknya yang dianggap lebih menyenangkan
dibandingkan dengan perilaku berprasangka baik. Mereka selalu menjudge orang lain dengan hal-hal buruk
terhadap tindakan yang belum pasti kebenarannya.
Husnudzan menurut
bahasa berasal dari lafal bahasa Arab 'husnun' yang artinya baik dan 'adzzhonnu'
yang artinya prasangka. Kata husnudzan berarti prasangka baik yang merupakan
lawan dari su'udzan atau prasangka buruk. Sedangkan secara istilah, husnudzan
adalah setiap pikiran, anggapan dan prasangka baik terhadap orang lain, atau
kepada Tuhannya.
Sebagai perilaku
husnuzhon dapat dikategorikan kepada beberapa bagian :
1.
Husnudzan terhadap Allah Swt, artinya berbaik
sangka pada Allah Swt sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta dan
segala isinya yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan serta bersih dari
segala sifat kekurangan. Husnudzon kepada Allah ini; terkait dengan : a). Husnudzan
dalam ketaatan kepada Allah SWT, b).Husnudzan dalam nikmat Allah SWT c).Husnudzan
dalam menghadapi ujian dari Allah SWT d). Husnudzan dalam melihat ciptaan Allah
SWT
2.
Husnudzan terhadap
diri sendiri,
husnudzan atau berbaik sangka terhadap diri sendiri tentu akan berprilaku
terpuji terhadap dirinya sendiri, seperti: a). percaya diri yakni yakin
dengan kemampuan dirinya b). gigih dalam mencapai apa yang dinginkan dengan
berkeras hati, tabah dan rajin, dan c). mampu berinisiatif yang positif
dalam bidang yang ditekuninya dan sesuai dengan keahliannya.
3.
Husnudzan terhadap
sesama manusia,
Husnudzan atau berbaik sangka terhadap sesama manusia merupakan sikap mental
terpuji yang harus diwujudkan melalui sikap lahir batin, ucapan dan perbuatan
yang baik, diridahi Allah Swt dan bermanfaat. Sikap, ucapan, dan perbuatan
baik, sebagai perwujudan dari husnudzan itu hendaknya diterapkan dalam
kehidupan berkeluarga, bertetangga serta bermasyarakat.
Su’udzon (berprasangka
buruk) pada Alloh merupakan sifat tercela yang harus dijauhi dari diri setiap
orang yang beriman karena hal ini merupakan salah satu dari dosa besar. Sikap
seperti ini juga merupakan kebiasaan orang-orang kafir dan munafiq. Mereka
berprasangka kepada Alloh dengan prasangka yang buruk dan mengharapkan
kekalahan dan kehancuran kaum muslimin. Akan tetapi Alloh membalik tipu daya
mereka serta mengancam mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan akhirat.
Alloh berfirman dalam Qs. Al-Fath: 6
وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ
وَٱلۡمُشۡرِكِينَ وَٱلۡمُشۡرِكَٰتِ ٱلظَّآنِّينَ بِٱللَّهِ ظَنَّ ٱلسَّوۡءِۚ
عَلَيۡهِمۡ دَآئِرَةُ ٱلسَّوۡءِۖ وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَلَعَنَهُمۡ
وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرٗا
6.
dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan
orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk
terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan
Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka
Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.
Berprasangka buruk
pada Alloh merupakan bentuk cemooh atau ingkar pada takdir Alloh, Misalnya
dengan mengatakan “Seharusnya kejadiannya begini dan begitu.” Atau
ucapan, “Kok rejeki saya akhir-akhir ini seret terus ya? Lagi apes memang…”
serta bentuk ucapan-ucapan yang lain. Banyak orang berprasangka buruk pada
Alloh baik yang berkaitan dengan dirinya sendiri maupun orang lain. Tidak ada
yang dapat menghindar dari prasangka buruk ini kecuali bagi orang-orang yang
memahami nama dan sifat Alloh. Maka sudah selayaknya bagi orang yang berakal
dan mau membenahi diri, hendaklah ia memperhatikan permasalahan ini dan mau
bertobat serta memohon ampun terhadap prasangka buruk yang telah ia lakukan.
Prasangka buruk
sendiri bisa dibedakan menjadi 3 bagian, yakni :
1. Prasangka buruk
terhadap diri sendiri (nafs ammarah).
Prasangka buruk terhadap diri sendiri biasanya ditandai
dengan tidak adanya kepercayaan diri terhadap kemampuan untuk melakukan suatu
hal dan cenderung selalu takut gagal. Hal ini tidak baik untuk dilakukan
sehinggi diri anda tidak bisa berkembang. Diperlukan cara agar hati tenang dalam Islam agar terhindar dari berprasangka buruk terhadap
diri sendiri.
2.
Prasangka buruk terhadap orang lain.
Prasangka buruk terhadap orang lain ditandai dengan sikap
selalu mencari – cari kesalahan orang lain. Apapun tindakan orang yang tidak
kita sukai pasti akan selalu dihubungkan dengan hal – hal yang buruk padahal
belum tau kebenaranya seperti apa. Biasanya setelah berprasangka buruk seperti
itu hati pelaku akan merasa. Alangkah baiknya jika anda mengetahui cara menghilangkan dendam dalam Islam.
3.
Prasangka buruk kepada Allah Swt.
Prasangka buruk kepada Allah biasanya timbul karena doa
yang dipanjatkan tidak kunjung terkabul. Ada juga karena banyaknya musibah yang
datang silih berganti. Hal seperti itulah yang memancing seseorang berprasangka
buruk kepada Allah Swt. Untuk itu anda perlu mengetahui sifat orang yang bertakwa.
Namun terdapat juga prasangka buruk yang diperbolehkan
dalam islam, yuk simak penjelasannya di bawah ini :
“Maka yang menjadi kewajiban seorang
Muslim, baik lelaki atau perempuan, wajib untuk menjauhi prasangka buruk.
Kecuali ada sebab-sebab yang jelas (yang menunjukkan keburukan tersebut). Jika
tidak ada, maka wajib meninggalkan prasangka buruk. Tidak boleh berprasangka
buruk kepada istri, kepada suami, kepada anak, kepada saudara suami, kepada
ayahnya atau kepada saudara Muslim yang lain. Dan wajib berprasangka baik
kepada Allah, serta kepada sesama saudara dan saudari semuslim. Kecuali jika
ada sebab-sebab yang jelas yang membuktikan tuduhannya. Jika tidak ada, maka
hukum asalanya adalah bara’ah (tidak ada tuntutan) dan salamah (tidak memiliki
kesalahan).” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi,
21/147-148)
Selain itu terdapat beberapa macam prasangka buruk dalam
islam, yakni :
1.
Prasangka Buruk Yang Diharamkan Dalam Islam.
Prasangka buruk yang diharamkan ialah prasangka
buruk yang ditujukan kepada Allah Swt dan bisa
juga prasangka buruk yang ditujukan kepada sesama umat muslim, namun
tidak disertai dengan bukti atau pun pertanda yang benar – benar nyata.
Hal tersebut bisa berakhir dengan fitnah. Bisa anda lihat hukum fitnah dalam islam sudah sangat jelas diharamkan dan dosa besar.
2.
Prasangka Buruk Yang Diperbolehkan Dalam
Islam.
Melihat dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al
Utsaimin, beliau mengatakan:
“Diharamkan suuzhan
kepada sesama Muslim. Adapun kafir, maka tidak haram berprasangka buruk kepada
mereka, karena mereka memang ahli keburukan. Adapun orang yang dikenal sering
melakukan kefasikan dan maksiat, maka tidak mengapa kita berprasangka buruk
kepadanya. Karena mereka memang gandrung dalam hal itu. Walaupun demikian,
tidak selayaknya seorang Muslim itu mencari-cari dan menyelidiki keburukan
orang lain. Karena sikap demikian kadang termasuk tajassus“.
3.
Prasangka Buruk Yang Dianjurkan Dalam Islam.
Melihat penjelasan dari Abu Hatim Al Busti,
beliau mengatakan:
“Orang yang memiliki
permusuhan dan pertarungan dengan seseorang dalam masalah agama atau masalah
dunia, yang hal tersebut mengancam keselamatan jiwanya, karena makar dari
musuhnya. Maka ketika itu dianjurkan berprasangka buruk terhadap tipu daya
dan makar musuh. Karena jika tidak, ia akan dikejutkan dengan tipu daya
musuhnya sehingga bisa binasa.”
4.
Prasangka Buruk Yang Diwajibkan Dalam Islam.
Prasangka buruk yang dianjurkan dalam Islam ialah
prasangka buruk yang dilakukan untuk memperjuangkan, membantu, membela umat
islam dari kedzaliman yang sangat dibutuhkan dalam rangka mendapatkan
kemaslahatan syariat.
3.
Persaudaraan.
Sebagaimana
diterangkan dalam Q.S Alhujarat: 10
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ
فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ
تُرۡحَمُونَ
10. Orang-orang beriman itu sesungguhnya
bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu
itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Ukhuwah (ukhuwwah) yang
biasa diartikan sebagai "persaudaraan", terambil
dari akar kata
yang pada mulanya berarti "memperhatikan". Makna asal ini memberi
kesan bahwa persaudaraan mengharuskan
adanya perhatian semua pihak yang
merasa bersaudara. Boleh jadi, perhatian itu pada mulanya
lahir karena adanya persamaan di
antara pihak-pihak yang
bersaudara, sehingga makna tersebut kemudian berkembang, dan pada
akhirnya ukhuwah diartikan sebagai
"setiap persamaan dan
keserasian dengan pihak lain, baik persamaan keturunan, dari segi
ibu, bapak, atau keduanya, maupun
dari segi persusuan". Secara majazi kata ukhuwah (persaudaraan)
mencakup persamaan salah
satu unsur seperti suku, agama, profesi, dan perasaan. Dalam
kamus-kamus bahasa Arab ditemukan
bahwa kata akh
yang membentuk kata ukhuwah digunakan juga dengan arti teman
akrab atau sahabat.
Menurut kebahasaan
untuk menetapkan kedudukan kata Islamiah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah lebih tepat dipahami
sebagai adjektifa, sehingga ukhuwah Islamiah berarti "persaudaraan
yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam." Paling tidak,
ada dua alasan untuk mendukung pendapat
ini. Pertama, Al-Quran dan
hadis memperkenalkan bermacam-macam persaudaraan, seperti yang
akan diuraikan selanjutnya. Kedua, karena alasan kebahasaan. Di
dalam bahasa Arab,
kata sifat selalu harus disesuaikan dengan yang disifatinya.
Jika yang disifati berbentuk
indefinitif maupun feminin,
kata sifatnya pun harus
demikian. Ini terlihat secara jelas pada saat kita
berkata ukhuwwah Islamiyyah
dan Al-Ukhuwwah Al-Islamiyyah.
Dalam Al-Quran, kata akh
(saudara) dalam bentuk
tunggal dapat ditemukan beberapa, kata ini dapat berarti.
1.
Saudara kandung atau saudara seketurunan,
seperti pada ayat yang berbicara tentang
kewarisan, atau keharaman mengawini orang-orang tertentu, misalnya, (QS
Al-Nisa [4]: 23)
2.
Saudara yang dijalin oleh
ikatan keluarga, seperti
bunyi doa Nabi Musa a.s. yang diabadikan Al-Quran, (QS Thaha [20]:
29-30).
3.
Saudara dalam arti sebangsa,
walaupun tidak seagama seperti dalam firman-Nya, (QS Al-A'raf [7]: 65)
4.
Saudara semasyarakat, walaupun
berselisih paham. (QS Shad [38]: 23).
5.
Persaudaraan seagama. Al-Hujurat ayat 10
Bentuk atau jenis
"persaudaraan" yang
disinggung oleh Al-Quran memperkenalkan
paling tidak empat macam persaudaraan:
1.
Ukhuwwah 'ubudiyyah
atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah.
2.
Ukhuwwah insaniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh
umat manusia adalah bersaudara, karena mereka
semua berasal dari seorang
ayah dan ibu.
3.
Ukhuwwah wathaniyyah wa an-nasab,
yaitu persaudaraan dalam keturunan dan
kebangsaan.
4.
Ukhuwwah fi din Al-Islam,
persaudaraan antar sesama Muslim.
Faktor penunjang lahirnya persaudaraan dalam arti luas
ataupun sempit adalah persamaan. Semakin banyak persamaan akan semakin kokoh
pula persaudaraan. Persamaan rasa dan
cita merupakan faktor dominan
yang mendahului lahirnya persaudaraan hakiki, dan pada
akhirnya menjadikan seseorang
merasakan derita
saudaranya, mengulurkan
tangan sebelum diminta,
serta memperlakukan saudaranya bukan atas dasar
"take and
give," tetapi justru mengutamakan
orang lain atas diri mereka, walau diri mereka sendiri kekurangan (QS Al-Hasyr
[59]: 9).
Guna memantapkan ukhuwah
tersebut, pertama kali
Al-Quran menggaris bawahi
bahwa perbedaan adalah
hukum yang berlaku dalam kehidupan
ini. Selain perbedaan
tersebut merupakan kehendak Ilahi,
juga demi kelestarian hidup,
sekaligus demi mencapai tujuan kehidupan makhluk di pentas bumi. “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami
berikan aturan dan jalan. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan
kamu satu umat, tetapi Allah hendak menguji kamu mengenai pemberian-Nya
kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (Qs.Al-Ma-idah [5]: 48).
Seandainya Tuhan menghendaki
kesatuan pendapat, niscaya diciptakan-Nya manusia
tanpa akal budi seperti binatang atau benda-benda tak bernyawa yang
tidak memiliki kemampuan memilah dan
memilih, karena hanya
dengan demikian seluruhnya akan menjadi
satu pendapat.
Dari sini, seorang Muslim dapat memahami adanya pandangan
atau bahkan pendapat yang berbeda dengan pandangan agamanya, karena semua itu
tidak mungkin berada
di luar kehendak
Ilahi. Kalaupun nalarnya tidak
dapat memahami kenapa Tuhan berbuat demikian, kenyataan
yang diakui Tuhan
itu tidak akan menggelisahkan atau mengantarkannya
"mati", atau memaksa orang lain
secara halus maupun
kasar agar menganut
pandangan agamanya,
B.
Hikmah kontrol
diri, prasangka baik, dan persaudaraan
Kontrol diri, pengendalian diri atau penguasaan diri (self
regulation) merupakan sikap, tindakan atau perilaku seseorang secara sadar baik
direncanakan atau tidak untuk mematuhi nilai dan norma sosial yang berlaku di
masyarakat. Pengendalian diri merupakan satu aspek penting dalam kecerdasan
emosi (emotional quotient). Aspek ini penting sekali dalam kehidupan manusia
sebab musuh terbesar manusia bukan berada di luar dirinya, akan tetapi justru
berada di dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, kemana pun seseorang pergi,
maka orang tersebut selalu diikuti oleh “musuh” yang ada dalam dirinya.
Pengendalian diri atau penguasaan diri merupakan aspek yang
perlu dilatih sejak dini. Tidak ada aspek kemampuan untuk menguasai diri yang
turun dari langit, melainkan diperoleh dari proses yang panjang dalam
pengalaman hidup selama berhubungan dengan orang-orang di sekitar. Bahkan dalam
sebuah kata bijak tertulis, “Siapa yang menguasai diri ibarat mengalahkan
sebuah kota”. Diri yang kita bawa-bawa sekarang ini dapat menguasai kita atau
kita yang menguasainya, dapat menjadi sahabat atau malah menjadi lawan.
Tergantung pilihan kita menjalani hidup ini. Hal yang harus dikendalikan dalam
diri kita antara lain perilaku berprasangka buruk kepada orang lain.
Orang yang mampu mengendalikan diri akan mampu menyelesaikan
masalah tanpa harus dengan kekerasan atau main hakim sendiri. Ia akan mengubah
prasangka buruk menjadi prasangka baik. Tentu saja, perilaku prasangka baik
akan menjadikan kehidupan kita menjadi tenteram, akan terjalin persaudaraan
(ukhuwah), saling pengertian. Sebaliknya dengan selalu berprasangka buruk kita
akan berhadapan dengan permusuhan antar sesama dan tidak adanya ketentraman
dalam menjalani kehidupan.
QS. Al Hujurat (49):12 Terjemahan : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka
(kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah
mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah
mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Diriwayatkan oleh malik dari Abu Hurairah RA,
bahwarasulullah SAW bersabda) Artinya: Jauhilah prasangka karena prasangka itu
adalah cerita yang paling dusta, dan janganlah kamu saling memaki, saling
mencari kesalahan, saling membanggakan, saling beriri, saling membenci, dan
jadilah kamu hamba – hamba Allah yang bersaudara .
QS. Al Hujurat (49):10 Terjemahan : Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah
(perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah,
supaya kamu mendapat rahmat.
Ayat di atas mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa
persatuan dan kesatuan, serta hubungan harmonis antar anggota masyarakat kecil
atau besar, akan melahirkan limpahan rahmat bagi mereka semua. Sebaliknya,
perpecahan dan keretakan hubungan mengundang lahirnya bencana buat mereka, yang
pada puncaknya dapat melahirkan pertumpahan darah dan perang saudara
sebagaimana dipahami dari kata qital
yang puncaknya adalah peperangan.
Dari deskripsi masing dalil di atas, maka dapat kita sarikan
masing-masing hikmah kontrol diri, prasangka baik dan Persaudaraan. Ada beberapa hikmah yang dapat diambil
dari mujahadah an-nafs, yaitu:
a)
Dapat
meminimalisasi akibat negatif dari perbuatan yang dilakukan, karena
dipertimbangkan dengan matang.
b)
Berusaha
berbuat yang baik dan terbaik, sebaik perbuatan itu akan dipertanggungjawabkan
di hadapan Allah
c)
Tidak
cepat bereaksi terhadap berbagai permasalahan yang timbul.
Selain hikmah di atas mujahadah annafs
dapat memberikan manfaat :
1)
Terhindar
dari perbuatan-perbuatan dosa.
2)
Terhindar
dari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain
3)
Terhindar
dari sifat egois
4)
Terhindar
dari sikap sombong
5)
Menyehatkan
rohani
Manfaat dan Hikmah
Sikap Husnudzan sebagai berikut :
1.
Manfaat Perilaku Husnudzan
a)
Hubungan
persahabatan dan persaudaraan menjadi sumber kebahagiaan karena didasari
ketulusan.
b)
Terhindar
dari penyesalan dalam hubungan antar sesama.
c)
Selalu
merasa senang dan bahagia atas kebahagiaan orang lain.
d)
Timbulnya
ketenangan dan ketentraman dalam hidup.
2.
Hikmah Berperilaku Husnudzan
a)
Menumbuhkan
rasa cinta kepada Allah SWT.
b)
Menumbuhkan
rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat-Nya.
c)
Menumbuhkan
sikap sabar dan tawakal.
d)
Menumbuhkan
keinginan untuk mendapat anugerah dan rahmat Allah SWT dengan cara ikhtiar dan
berusaha.
Dalam persaudaraan
terdapat hikmah yang dapat dijadikan dalam landasan kehidupan, yakni:
a.
Ukhuwah
sesama Muslim adalah prasyarat kesempurnaan iman seseorang. Kesempurnaan iman
itu ditandai dengan adanya sifat mengasihi saudaranya. Mengenai sifat kasih
sayang, Ibnu Qayyim menjelaskan, kasih sayang adalah sifat memberikan manfaat
kepada orang lain, yang juga berarti sifat bersusah payah demi memberikan
kemudahan kepada sahabat atau menjauhkannya dari bencana.
b.
Terciptanya
solidaritas yang kuat antara sesama muslim.
Dengan adanya saling tepa selira,
merasakan kebahagiaan ketika orang lain bahagia dan meresakan kesedihan ketika
orang lain ditimpa musibah, akan membuahkan sikap solidaritas yang kuat
diantara sesama muslim. Seorang muslim akan lebih peduli dan memberikan
perhatian yang lebih kepada saudaranya sesama muslim. Dari sikap inilah Islam
dan kaum muslimin akan makin kuat dalam berbagai hal, termasuk secara ekonomi
sehingga terhindar dari jurang kemiskinan.
c.
Terciptanya
persatuan dan kesatuan bangsa.
Apabila seorang muslim mampu memberikan
kasih sayang terhadap muslim lainnya, dan kasih sayang itu diwujudkan dalam
berbagai aspek kehidupan, kita akan merasakan betapa nikmatnya kebersamaan
sebagai umat Islam dan bangsa yang kuat dan kukuh dan tidak muda di adu domba
yang sarat akan perpecahan. Apalagi dengan sikap ikhlas karena mengharap ridha
Allah.
d.
Terciptanya
kerukunan hidup antara sesama warga masyarakat.
Apabila seorang muslim mampu menghargai
dan menghormai orang laindalam berbagai hal, termasuk menghormati dan
menghargai terhadap adanya perbedaan, baik dalam hal bahasa, budaya, maupun
pemahaman agama yang sarat akan perbedaan mazhab dan pendapat, kita akan
merasakan betapa nikmatnya hidup rukun dalam sebuah perbedaan yang dibingkai
atas dasar ukhuwah Islamiyah dengan menganggap perbedaan sebagai rahmat atas kasih
sayang Allah kepada semua hamba-Nya.