Minggu, 26 Juli 2020



KONTROL DIRI, PRASANGKA BAIK, DAN PERSAUDARAAN


A.                Kajian Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan
1.        Kontrol diri ( Q.s Al-anfal:72 )

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَواْ وَّنَصَرُوٓاْ أُوْلَٰٓئِكَ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يُهَاجِرُواْ مَا لَكُم مِّن وَلَٰيَتِهِم مِّن شَيۡءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُواْۚ وَإِنِ ٱسۡتَنصَرُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ فَعَلَيۡكُمُ ٱلنَّصۡرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوۡمِۢ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُم مِّيثَٰقٞۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ 

72.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Kontrol diri atau mujahadah al-nafs adalah perjuangan sungguh-sungguh atau jihad melawan ego atau nafsu pribadi. Perjuangan ini dilakukan karena nafsu-diri memiliki kecenderungan untuk mencari pelbagai kesenangan, masa bodoh terhadap hak-hak yang harus ditunaikan, serta mengabaikan terhadap kewajiban-kewajiban. Siapa pun yang gemar menuruti apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsunya, maka sesungguhnya ia telah tertawan dan diperbudak oleh nafsunya itu. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Nabi Saw menegaskan bahwa jihad melawan nafsu lebih dahsyat daripada jihad melawan musuh (qital).
Kontrol diri adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya sendiri secara sadar agar menghasilkan perilaku yang tidak merugikan orang lain, sehingga sesuai dengan norma sosial dan dapat diterima oleh lingkungannya. Kontrol diri juga didefinisikan sebagai kapasitas manusia untuk mengendalikan respon terutama dalam fungsinya untuk beradaptasi dengan norma ideal, moral, ekspektasi sosial, dan pencapaian jangka panjang. Kontrol diri berkairan erat dengan internal locus of control dan efikasi diri.
Mujahadah an Nafs hanya dapat dilakukan karena hidayah Allah Mujahadah al-nafs merupakan perbuatan yang berat. Meskipun berat Allah menjanjikan jalan keluar bagi orang beriman yang bersungguh-sungguh berjuang mengendalikan nafsunya. Sebagaimana firman Allah: “Orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami…” (QS al-Ankabut: 69). Imam Ibn al-Qayyim berkata: “Allah menggantungkan hidayah dengan laku jihad. Maka orang yang paling sempurna hidayah (yang diperoleh)-nya adalah dia yang paling besar laku jihadnya. Jihad yang paling fardu adalah jihad melawan nafsu, melawan syahwat, melawan syetan, melawan rayuan duniawi. Siapa yang bersungguh-sungguh dalam jihad melawan keempat hal tersebut, Allah akan menunjukkan padanya jalan ridha-Nya, yang akan mengantarkannya ke pintu surga-Nya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan jihad, maka ia akan sepi dari hidayah…”
Di ayat lain, Allah menjelaskan bahwa membebaskan nafsu merupakan karunia Allah, sebagaimana firmannya: “Dan aku tidak membebaskan nafs-ku, karena sesungguhnya nafs itu selalu sangat menyuruh kepada keburukan, kecuali nafs yang dirahmati Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf/12: 53). Kalimat yang bergaris bawah menunjukkan bahwa kita tidak akan sanggup mengendalikan diri, kecuali mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah.
Akibat mengikuti nafsu para pelaku tindak kriminal di sekitar kita, seperti para koruptor, pemakai narkoba, pembunuh, misalnya, adalah orang-orang yang gagal dalam laku mujahadah diri. Sebaliknya, mereka justru menuruti segala keinginan dan syahwat diri, sehingga mereka tertawan dan diperbudak olehnya. Mereka tidak pernah menyadari tentang buah kejahatan yang akan datang menjelang, cepat atau lambat. Yang mereka pikirkan adalah bayangan semu tentang kenikmatan sesaat dan instan. Na’udzu billah, semoga kita dihindarkan cara pandang sedemikian.
Cara Mujahadah annafs, Ada empat cara melakukan mujahadah an-nafs dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:
1)      Bersabar atau menyisihkan waktu yang lebih lama untuk mengambil keputusan dari perbuatan yang akan dilakukan. Sikap sabar akan membuka pikiran jernih yang menjadi pembuka ide-ide brilian yang mengambil keputusan.
2)      Memikirkan akibat dari perbuatan yang kita lakukan. Berpikir tentang akibat perbuatan yang akan dilakukan dapat meminimalisasi hal-hal negatif dan penyesalan yang akan ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Bukankah setiap perbuatan sebenarnya akan kembali kepada pelakunya sendiri? Allah Swt berfirman: “Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik kepada dirimu sendiri. Jika kamu berlaku jahat, maka kamu berbuat jahat pada dirimu sendiri.” (QS Al-Isra: 7).
3)      Berdzikir kepada Allah, Berdzikir merupakan cara untuk menyadarkan diri bahwa segala perbuatan kita dilihat dan dicatat oleh Allah untuk dipertanggungjawabkan di akhirat.
4)      Berdoa kepada Allah, doa menjadi modal spritual ketika dalam kesulitan. Inilah yang dicontohkan Rasulullah, ketika beliau dilempari batu dan diusir dari Thaif, justru beliau mendoakan penduduk thaif agar diberi hidayah oleh Allah.

2.        Prasangka Baik
Sebagaimana Q.S Al-hujarat:12 telah menjelaskan ;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ 
12.  Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayan.

Prasangka /dzon, menurut KBBI adalah pendapat/anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan-menyelidiki), sendiri. Rasa pendapat atau perasaan yang buruk terhadap ras tertentu tanpa pengetahuan atau alasan tertentu. Prasangka juga dapat diartikan sebagai sikap yang tidak masuk akal yang tidak dipengaruhi oleh  alasan rasional/ pengetahuan.
Prasangka dalam Islam secara garis besar bisa dibedakan menjadi dua bagian penting yakni prasangka baik (huznudzon) dan prasangka buruk (suudzon). Namun di masyarakat pada umumnya kebanyakan justru prasangka buruklah yang popular. Mengapa demikian? Memang perilaku berprasangka buruknya yang dianggap lebih menyenangkan dibandingkan dengan perilaku berprasangka baik. Mereka selalu menjudge orang lain dengan hal-hal buruk terhadap tindakan yang belum pasti kebenarannya.
Husnudzan menurut bahasa berasal dari lafal bahasa Arab 'husnun' yang artinya baik dan 'adzzhonnu' yang artinya prasangka. Kata husnudzan berarti prasangka baik yang merupakan lawan dari su'udzan atau prasangka buruk. Sedangkan secara istilah, husnudzan adalah setiap pikiran, anggapan dan prasangka baik terhadap orang lain, atau kepada Tuhannya.
Sebagai perilaku husnuzhon dapat dikategorikan kepada beberapa bagian :
1.       Husnudzan terhadap Allah Swt, artinya berbaik sangka pada Allah Swt sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta dan segala isinya yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan serta bersih dari segala sifat kekurangan. Husnudzon kepada Allah ini; terkait dengan : a). Husnudzan dalam ketaatan kepada Allah SWT, b).Husnudzan dalam nikmat Allah SWT c).Husnudzan dalam menghadapi ujian dari Allah SWT d). Husnudzan dalam melihat ciptaan Allah SWT
2.       Husnudzan terhadap diri sendiri, husnudzan atau berbaik sangka terhadap diri sendiri tentu akan berprilaku terpuji terhadap dirinya sendiri, seperti: a). percaya diri yakni yakin dengan kemampuan dirinya b). gigih dalam mencapai apa yang dinginkan dengan berkeras hati, tabah dan rajin, dan c). mampu berinisiatif yang positif dalam bidang yang ditekuninya dan sesuai dengan keahliannya.
3.       Husnudzan terhadap sesama manusia, Husnudzan atau berbaik sangka terhadap sesama manusia merupakan sikap mental terpuji yang harus diwujudkan melalui sikap lahir batin, ucapan dan perbuatan yang baik, diridahi Allah Swt dan bermanfaat. Sikap, ucapan, dan perbuatan baik, sebagai perwujudan dari husnudzan itu hendaknya diterapkan dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga serta bermasyarakat.
Su’udzon (berprasangka buruk) pada Alloh merupakan sifat tercela yang harus dijauhi dari diri setiap orang yang beriman karena hal ini merupakan salah satu dari dosa besar. Sikap seperti ini juga merupakan kebiasaan orang-orang kafir dan munafiq. Mereka berprasangka kepada Alloh dengan prasangka yang buruk dan mengharapkan kekalahan dan kehancuran kaum muslimin. Akan tetapi Alloh membalik tipu daya mereka serta mengancam mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Alloh berfirman dalam Qs. Al-Fath: 6
وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ وَٱلۡمُشۡرِكَٰتِ ٱلظَّآنِّينَ بِٱللَّهِ ظَنَّ ٱلسَّوۡءِۚ عَلَيۡهِمۡ دَآئِرَةُ ٱلسَّوۡءِۖ وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَلَعَنَهُمۡ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرٗا 
6.  dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.

Berprasangka buruk pada Alloh merupakan bentuk cemooh atau ingkar pada takdir Alloh, Misalnya dengan mengatakan “Seharusnya kejadiannya begini dan begitu.” Atau ucapan, “Kok rejeki saya akhir-akhir ini seret terus ya? Lagi apes memang…” serta bentuk ucapan-ucapan yang lain. Banyak orang berprasangka buruk pada Alloh baik yang berkaitan dengan dirinya sendiri maupun orang lain. Tidak ada yang dapat menghindar dari prasangka buruk ini kecuali bagi orang-orang yang memahami nama dan sifat Alloh. Maka sudah selayaknya bagi orang yang berakal dan mau membenahi diri, hendaklah ia memperhatikan permasalahan ini dan mau bertobat serta memohon ampun terhadap prasangka buruk yang telah ia lakukan.
Prasangka buruk sendiri bisa dibedakan menjadi 3 bagian, yakni :
1.      Prasangka buruk terhadap diri sendiri (nafs ammarah).
Prasangka buruk terhadap diri sendiri biasanya ditandai dengan tidak adanya kepercayaan diri terhadap kemampuan untuk melakukan suatu hal dan cenderung selalu takut gagal. Hal ini tidak baik untuk dilakukan sehinggi diri anda tidak bisa berkembang. Diperlukan cara agar hati tenang dalam Islam agar terhindar dari berprasangka buruk terhadap diri sendiri.

2.      Prasangka buruk terhadap orang lain.
Prasangka buruk terhadap orang lain ditandai dengan sikap selalu mencari – cari kesalahan orang lain. Apapun tindakan orang yang tidak kita sukai pasti akan selalu dihubungkan dengan hal – hal yang buruk padahal belum tau kebenaranya seperti apa. Biasanya setelah berprasangka buruk seperti itu hati pelaku akan merasa. Alangkah baiknya jika anda mengetahui cara menghilangkan dendam dalam Islam.
3.      Prasangka buruk kepada Allah Swt.
Prasangka buruk kepada Allah biasanya timbul karena doa yang dipanjatkan tidak kunjung terkabul. Ada juga karena banyaknya musibah yang datang silih berganti. Hal seperti itulah yang memancing seseorang berprasangka buruk kepada Allah Swt. Untuk itu anda perlu mengetahui sifat orang yang bertakwa.

Namun terdapat juga prasangka buruk yang diperbolehkan dalam islam, yuk simak penjelasannya di bawah ini :
“Maka yang menjadi kewajiban seorang Muslim, baik lelaki atau perempuan, wajib untuk menjauhi prasangka buruk. Kecuali ada sebab-sebab yang jelas (yang menunjukkan keburukan tersebut). Jika tidak ada, maka wajib meninggalkan prasangka buruk. Tidak boleh berprasangka buruk kepada istri, kepada suami, kepada anak, kepada saudara suami, kepada ayahnya atau kepada saudara Muslim yang lain. Dan wajib berprasangka baik kepada Allah, serta kepada sesama saudara dan saudari semuslim. Kecuali jika ada sebab-sebab yang jelas yang membuktikan tuduhannya. Jika tidak ada, maka hukum asalanya adalah bara’ah (tidak ada tuntutan) dan salamah (tidak memiliki kesalahan).” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 21/147-148)

Selain itu terdapat beberapa macam prasangka buruk dalam islam, yakni :
1.      Prasangka Buruk Yang Diharamkan Dalam Islam.
Prasangka buruk yang diharamkan ialah prasangka buruk yang ditujukan kepada Allah Swt dan bisa juga prasangka buruk yang ditujukan kepada sesama umat muslim, namun tidak disertai dengan bukti atau pun pertanda yang benar – benar nyata. Hal tersebut bisa berakhir dengan fitnah. Bisa anda lihat hukum fitnah dalam islam sudah sangat jelas diharamkan dan dosa besar.
2.      Prasangka Buruk Yang Diperbolehkan Dalam Islam.
Melihat dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, beliau mengatakan:
“Diharamkan suuzhan kepada sesama Muslim. Adapun kafir, maka tidak haram berprasangka buruk kepada mereka, karena mereka memang ahli keburukan. Adapun orang yang dikenal sering melakukan kefasikan dan maksiat, maka tidak mengapa kita berprasangka buruk kepadanya. Karena mereka memang gandrung dalam hal itu. Walaupun demikian, tidak selayaknya seorang Muslim itu mencari-cari dan menyelidiki keburukan orang lain. Karena sikap demikian kadang termasuk tajassus“.
3.      Prasangka Buruk Yang Dianjurkan Dalam Islam.
Melihat penjelasan dari Abu Hatim Al Busti, beliau mengatakan:
“Orang yang memiliki permusuhan dan pertarungan dengan seseorang dalam masalah agama atau masalah dunia, yang hal tersebut mengancam keselamatan jiwanya, karena makar dari musuhnya. Maka ketika itu dianjurkan berprasangka buruk terhadap tipu daya dan makar musuh. Karena jika tidak, ia akan dikejutkan dengan tipu daya musuhnya sehingga bisa binasa.”
4.        Prasangka Buruk Yang Diwajibkan Dalam Islam.
Prasangka buruk yang dianjurkan dalam Islam ialah prasangka buruk yang dilakukan untuk memperjuangkan, membantu, membela umat islam dari kedzaliman yang sangat dibutuhkan dalam rangka mendapatkan kemaslahatan syariat.

3.        Persaudaraan.
Sebagaimana diterangkan dalam Q.S Alhujarat: 10
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ 
10.  Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Ukhuwah    (ukhuwwah)    yang    biasa    diartikan    sebagai "persaudaraan",  terambil  dari  akar  kata  yang pada mulanya berarti "memperhatikan". Makna asal ini  memberi  kesan  bahwa persaudaraan  mengharuskan  adanya  perhatian semua pihak yang merasa bersaudara. Boleh jadi, perhatian itu pada  mulanya  lahir  karena  adanya persamaan  di  antara  pihak-pihak  yang  bersaudara, sehingga makna tersebut kemudian berkembang, dan pada akhirnya  ukhuwah diartikan  sebagai  "setiap  persamaan  dan  keserasian dengan pihak lain, baik persamaan keturunan, dari  segi  ibu,  bapak, atau keduanya, maupun dari segi persusuan". Secara majazi kata ukhuwah (persaudaraan) mencakup  persamaan  salah  satu  unsur seperti  suku, agama, profesi, dan perasaan. Dalam kamus-kamus bahasa Arab ditemukan  bahwa  kata  akh  yang  membentuk  kata ukhuwah digunakan juga dengan arti teman akrab atau sahabat.
Menurut  kebahasaan  untuk  menetapkan kedudukan  kata Islamiah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah lebih tepat  dipahami  sebagai  adjektifa, sehingga  ukhuwah Islamiah berarti "persaudaraan yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam." Paling tidak, ada  dua alasan untuk mendukung pendapat ini.  Pertama,  Al-Quran  dan  hadis  memperkenalkan  bermacam-macam persaudaraan, seperti yang akan diuraikan selanjutnya. Kedua, karena alasan kebahasaan. Di dalam  bahasa  Arab,  kata sifat  selalu  harus disesuaikan dengan yang disifatinya. Jika yang  disifati  berbentuk  indefinitif  maupun  feminin,  kata sifatnya  pun  harus  demikian. Ini terlihat secara jelas pada saat  kita  berkata  ukhuwwah   Islamiyyah   dan   Al-Ukhuwwah Al-Islamiyyah.
Dalam  Al-Quran,  kata  akh  (saudara)  dalam  bentuk  tunggal dapat ditemukan beberapa, kata ini dapat berarti.
1.      Saudara kandung atau saudara seketurunan, seperti pada ayat yang  berbicara  tentang  kewarisan, atau keharaman mengawini orang-orang tertentu, misalnya, (QS Al-Nisa [4]: 23)
2.      Saudara yang dijalin oleh ikatan  keluarga,  seperti  bunyi doa Nabi Musa a.s. yang diabadikan Al-Quran, (QS Thaha [20]: 29-30).
3.      Saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama seperti dalam firman-Nya, (QS Al-A'raf [7]: 65) 
4.      Saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham. (QS Shad [38]: 23).
5.      Persaudaraan seagama. Al-Hujurat  ayat 10
Bentuk atau jenis  "persaudaraan"  yang disinggung oleh Al-Quran memperkenalkan  paling tidak empat macam persaudaraan:
1.      Ukhuwwah  'ubudiyyah  atau   saudara   kesemakhlukan   dan kesetundukan kepada Allah.
2.      Ukhuwwah  insaniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka  semua  berasal  dari seorang  ayah  dan  ibu.
3.      Ukhuwwah wathaniyyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan  dalam keturunan dan kebangsaan.
4.      Ukhuwwah fi din Al-Islam, persaudaraan antar sesama Muslim. 
Faktor penunjang lahirnya persaudaraan dalam arti luas ataupun sempit adalah persamaan. Semakin banyak persamaan akan semakin kokoh pula persaudaraan. Persamaan  rasa  dan  cita  merupakan faktor  dominan  yang mendahului lahirnya persaudaraan hakiki, dan  pada  akhirnya  menjadikan  seseorang  merasakan   derita
saudaranya,   mengulurkan   tangan   sebelum   diminta,  serta memperlakukan saudaranya bukan atas  dasar  "take  and  give," tetapi justru  mengutamakan orang lain atas diri mereka, walau diri mereka sendiri kekurangan (QS Al-Hasyr [59]: 9).
Guna  memantapkan  ukhuwah  tersebut,  pertama  kali  Al-Quran menggaris bawahi  bahwa  perbedaan  adalah  hukum  yang berlaku dalam  kehidupan  ini.  Selain  perbedaan  tersebut  merupakan kehendak  Ilahi,  juga  demi kelestarian hidup, sekaligus demi mencapai tujuan kehidupan makhluk di pentas bumi. “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat, tetapi Allah hendak menguji kamu mengenai pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (Qs.Al-Ma-idah [5]: 48).
Seandainya  Tuhan  menghendaki  kesatuan   pendapat,   niscaya diciptakan-Nya  manusia  tanpa akal budi seperti binatang atau benda-benda tak bernyawa yang tidak memiliki kemampuan memilah dan  memilih,  karena  hanya  dengan  demikian seluruhnya akan menjadi satu pendapat.
Dari sini, seorang Muslim dapat memahami adanya pandangan atau bahkan pendapat yang berbeda dengan pandangan agamanya, karena semua  itu  tidak  mungkin  berada  di  luar  kehendak  Ilahi. Kalaupun  nalarnya  tidak  dapat memahami kenapa Tuhan berbuat demikian,  kenyataan  yang  diakui  Tuhan   itu   tidak   akan menggelisahkan atau mengantarkannya "mati", atau memaksa orang lain  secara  halus  maupun  kasar  agar  menganut   pandangan agamanya,

B.                 Hikmah kontrol diri, prasangka baik, dan persaudaraan
Kontrol diri, pengendalian diri atau penguasaan diri (self regulation) merupakan sikap, tindakan atau perilaku seseorang secara sadar baik direncanakan atau tidak untuk mematuhi nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Pengendalian diri merupakan satu aspek penting dalam kecerdasan emosi (emotional quotient). Aspek ini penting sekali dalam kehidupan manusia sebab musuh terbesar manusia bukan berada di luar dirinya, akan tetapi justru berada di dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, kemana pun seseorang pergi, maka orang tersebut selalu diikuti oleh “musuh” yang ada dalam dirinya.
Pengendalian diri atau penguasaan diri merupakan aspek yang perlu dilatih sejak dini. Tidak ada aspek kemampuan untuk menguasai diri yang turun dari langit, melainkan diperoleh dari proses yang panjang dalam pengalaman hidup selama berhubungan dengan orang-orang di sekitar. Bahkan dalam sebuah kata bijak tertulis, “Siapa yang menguasai diri ibarat mengalahkan sebuah kota”. Diri yang kita bawa-bawa sekarang ini dapat menguasai kita atau kita yang menguasainya, dapat menjadi sahabat atau malah menjadi lawan. Tergantung pilihan kita menjalani hidup ini. Hal yang harus dikendalikan dalam diri kita antara lain perilaku berprasangka buruk kepada orang lain.
Orang yang mampu mengendalikan diri akan mampu menyelesaikan masalah tanpa harus dengan kekerasan atau main hakim sendiri. Ia akan mengubah prasangka buruk menjadi prasangka baik. Tentu saja, perilaku prasangka baik akan menjadikan kehidupan kita menjadi tenteram, akan terjalin persaudaraan (ukhuwah), saling pengertian. Sebaliknya dengan selalu berprasangka buruk kita akan berhadapan dengan permusuhan antar sesama dan tidak adanya ketentraman dalam menjalani kehidupan.
QS. Al Hujurat (49):12 Terjemahan : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Diriwayatkan oleh malik dari Abu Hurairah RA, bahwarasulullah SAW bersabda) Artinya: Jauhilah prasangka karena prasangka itu adalah cerita yang paling dusta, dan janganlah kamu saling memaki, saling mencari kesalahan, saling membanggakan, saling beriri, saling membenci, dan jadilah kamu hamba – hamba Allah yang bersaudara .
QS. Al Hujurat (49):10 Terjemahan : Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Ayat di atas mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa persatuan dan kesatuan, serta hubungan harmonis antar anggota masyarakat kecil atau besar, akan melahirkan limpahan rahmat bagi mereka semua. Sebaliknya, perpecahan dan keretakan hubungan mengundang lahirnya bencana buat mereka, yang pada puncaknya dapat melahirkan pertumpahan darah dan perang saudara sebagaimana dipahami dari kata qital yang puncaknya adalah peperangan.
Dari deskripsi masing dalil di atas, maka dapat kita sarikan masing-masing hikmah kontrol diri, prasangka baik dan Persaudaraan.  Ada beberapa hikmah yang dapat diambil dari mujahadah an-nafs, yaitu:
a)      Dapat meminimalisasi akibat negatif dari perbuatan yang dilakukan, karena dipertimbangkan dengan matang.
b)      Berusaha berbuat yang baik dan terbaik, sebaik perbuatan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah
c)      Tidak cepat bereaksi terhadap berbagai permasalahan yang timbul.
Selain hikmah di atas mujahadah annafs dapat memberikan manfaat :
1)      Terhindar dari perbuatan-perbuatan dosa.
2)      Terhindar dari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain
3)      Terhindar dari sifat egois
4)      Terhindar dari sikap sombong
5)      Menyehatkan rohani
Manfaat dan Hikmah Sikap Husnudzan sebagai berikut :
1.      Manfaat Perilaku Husnudzan
a)         Hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi sumber kebahagiaan karena didasari ketulusan.
b)        Terhindar dari penyesalan dalam hubungan antar sesama.
c)         Selalu merasa senang dan bahagia atas kebahagiaan orang lain.
d)        Timbulnya ketenangan dan ketentraman dalam hidup.

2.      Hikmah Berperilaku Husnudzan
a)         Menumbuhkan rasa cinta kepada Allah SWT.
b)        Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat-Nya.
c)         Menumbuhkan sikap sabar dan tawakal.
d)        Menumbuhkan keinginan untuk mendapat anugerah dan rahmat Allah SWT dengan cara ikhtiar dan berusaha.

Dalam persaudaraan terdapat hikmah yang dapat dijadikan dalam landasan kehidupan, yakni:
a.       Ukhuwah sesama Muslim adalah prasyarat kesempurnaan iman seseorang. Kesempurnaan iman itu ditandai dengan adanya sifat mengasihi saudaranya. Mengenai sifat kasih sayang, Ibnu Qayyim menjelaskan, kasih sayang adalah sifat memberikan manfaat kepada orang lain, yang juga berarti sifat bersusah payah demi memberikan kemudahan kepada sahabat atau menjauhkannya dari bencana.
b.       Terciptanya solidaritas yang kuat antara sesama muslim.
Dengan adanya saling tepa selira, merasakan kebahagiaan ketika orang lain bahagia dan meresakan kesedihan ketika orang lain ditimpa musibah, akan membuahkan sikap solidaritas yang kuat diantara sesama muslim. Seorang muslim akan lebih peduli dan memberikan perhatian yang lebih kepada saudaranya sesama muslim. Dari sikap inilah Islam dan kaum muslimin akan makin kuat dalam berbagai hal, termasuk secara ekonomi sehingga terhindar dari jurang kemiskinan.
c.       Terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa.
Apabila seorang muslim mampu memberikan kasih sayang terhadap muslim lainnya, dan kasih sayang itu diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, kita akan merasakan betapa nikmatnya kebersamaan sebagai umat Islam dan bangsa yang kuat dan kukuh dan tidak muda di adu domba yang sarat akan perpecahan. Apalagi dengan sikap ikhlas karena mengharap ridha Allah.
d.       Terciptanya kerukunan hidup antara sesama warga masyarakat.
Apabila seorang muslim mampu menghargai dan menghormai orang laindalam berbagai hal, termasuk menghormati dan menghargai terhadap adanya perbedaan, baik dalam hal bahasa, budaya, maupun pemahaman agama yang sarat akan perbedaan mazhab dan pendapat, kita akan merasakan betapa nikmatnya hidup rukun dalam sebuah perbedaan yang dibingkai atas dasar ukhuwah Islamiyah dengan menganggap perbedaan sebagai rahmat atas kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya.


KONTROL DIRI, PRASANGKA BAIK, DAN PERSAUDARAAN A.                 Kajian Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan 1.     ...