Selasa, 22 September 2015

Qurban dan Integritas Kebangsaan



Kurban dan Integritas Kebangsaan

Pada Hari ini sebagian Umat Islam menjalankan sholat iedul adha sebagai pertanda bahwa hari iedul qurban telah terbuka untuk 3 hari ke depan. Iedul qurban sebagai rutinitas ajaran Islam yang terus ada dalam setiap tahun akan berlangsung selama kehidupan ini ada. Disinilah ajaran Islam dapat difungsikan berlaku sepanjang zaman, rahmat semesta alam.
Disi qurban, orang yang berkurban adalah orang yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT, pendekatan diri kepada Allah melalui kurban lantaran manusia melakukan kesalahan, dan penghambaan yang salah terhadap keimanan. Ujian keimanan dalam kurban merupakan faktor utama  adanya kewajiban ini. Keimanan manusia akan diuji terus menerus, selagi manusia dalam dirinya tertanam “mu’min”.
Demikian pula ujian kepada bangsa dan Negara Indonesia yang silih berganti, pemerintah berganti ujian baru muncul baik yang berasal dari manusia maupun dari alam semesta. Manusia dan alam semesta saling berkelindan utuh, yang terus menerus saling ingat-mengingatkan. fenomena-feneoma kekeringan, kebakaran, banjir bandang, dan gunung meletus, ini menjadi pertanda untuk mengingatkan kepada manusia untuk selalu harmonis kepada Alam. Manusia diuji dengan keberadaan ekonomi yang turun, harga kebutuhan naik, daya beli masyarakat semakin turun, orang miskin menjadi banyak jumlahnya dan ujian lainya.
Banyak ujian yang diberikan kepada bangsa ini, menjadikan diri kita sadar bahwa, bangsa yang besar akan menghadapi ujian besar pula. Cita-cita bangsa menjadikan Negara ini adil makmur, sejahtera, dan cerdas masih bersifat tekstual, jikalau sudah dilakukan paling tidak hanya dilihat pembangunan fisik dan kesejahteraan yang belum merata. Jika demikian, keniscayaan kepada orang miskin untuk keadilan, kesejahteraan, kecerdasan justru akan semakin bertambah. Kekhawatiran jumlah orang miskin akan bertambah, akan berdampak pada kriminalitas, amoral, dan perbuatan yang menyimpang lainya akan tumbuh dan berkembang.
Kesadaran keimanan manusia untuk menjalankan kurban, sebenarnya tidak hanya menyerahkan sejumlah uang atau hewan kurban, akan tetapi kurban dimaknai sebagai bentuk upaya bersama dalam mencapai derajat kesadaran manusia untuk berbagi kepada manusia, dan alam. Demikian pula kurban, dapat dipahami memberikan sesuatu  kepada manusia yang ditujukan kepada Allah untuk mendapat keridho’an Allah SWT.
Gerakan kurban, terasa berat ketika dihubungkan dengan kondisi ekonomi sekarang ini, manusia dengan sejumlah dalih yang dikeluarkan menyatakan “tidak mampu”, bila ditelisik lebih jauh meraka “mampu” dan pada dasarnya “tidak mau”. Sifat inilah yang sering muncul dan dimunculkan oleh hati, perasaan, pikiran manusia yang dibakar oleh hawa nafsu, godaan syetan, dan keadaaan manusia sendiri. Budaya bahwa manusia “tidak mampu” dan keluh kesah merupakan sifat kodrati yang harus dibuang dengan mengalirkan darah kurban.
Demikian sifat-sifat yang muncul dari pemerintah ( tidak semua oknum), menjadikan Negara ini menjadi “hewan kurban” yang harus disembelih dan diberikan kepada lain sangatlah tidak tepat, yang benar adalah sifat-sifat manusia itulah yang harus dikurbankan untuk menerima keadaan yang suci.
Kesucian bangsa dan Negara ini layak untuk diperjuangkan, Korupsi, Penyalahgunaan Narkotika, Nepostisme, dan lainya menjadi bangsa ini semakin terpuruk. Integritas keimanan bangsa ini semakin lama akan semakin pudar dan hilang dalam benak setiap insan warga. Titik kurban sebagai bentuk kehilangan integritas keimanan kepada kebutuhan yang bersifat materialis harus dikurbankan untuk menjadi yang lebih baik, yakni kebutuhan pada sifat keillahian, dan keruhanian semesta. Pengorbanan inilah yang harus dilakukan oleh warga dalam bangsa ini untuk menjadikan bangsa ini keluar dari “krisis kebangsaan”.

Minggu, 06 September 2015

Hikmah Kabut asap dan tiadanya Hujan

Menjadi Negara besar seperti Nusantara, Indonesia, menjadikan bangsa ini memiliki wilayah geografis yang penuh dengan beraneka ragam tumbuhan, jenis kayu, tanaman dan flora fauna. Vegetasi tersebut memberikan manfaat kepada semua kehidupan di bangsa ini, akan tetapi bisa menjadi malapetaka bagi masyarakat dengan tidak memanfaatkan dan memjaga kelestarian. Alhasil bangsa indonesia telah merasakan akibatnya yakni adanya gangguan asap yang menyelimuti bumi sebagaian wilayah sumatera dan kalimantan. Ulah tangan manusia yang menjadi cirikhas manusia menyebabkan kerusakan di bumi telah menjadi nash yang tidak terbantahkan. Hal ini menjadi pertanda bahwa kejadian-kejadian yang terjadi di muka bumi adalah perbuatan manusia.
Mengembalikan manusia pada posisinya menjadi sebuah harmonisasi alam akan menjadi tugas terberat lainya. Oleh karena itu dalam pandangan agama, manusia harus melakukan pertaubatan yang sungguh-sungguh, hijrah pemikiran, perbuatan dan keyakinan yang satu, sehingga kembalinya manusia menyadari hakikat eksistensi dalam kehidupan dapat ditemukan kembali. Jikalau hal ini menjadi tidak dapat dilakukan, keberadaan manusia akan selalu lebih buruk lagi ke depannya.

KONTROL DIRI, PRASANGKA BAIK, DAN PERSAUDARAAN A.                 Kajian Kontrol Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan 1.     ...